Featured Article
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Mengunjungi Kota Mewah Dubai, Uni Emirat Arab

Laporan AFNI ZULKIFLI, Dubai

Gurun Pasir Menjadi Surga, Lamborghini jadi Taksi

MEWAH - Salah satu sisi pemandangan Kota Dubai saat menjelang pagi. Terlihat gedung tertinggi di dunia, Burj Al-Khalifa dan gedung-gedung modern lainnya di jantung kota ini. Foto: Afni Zulkifli/JPNN

Pernah membayangkan tinggal di kota dengan gedung tertinggi di dunia, atau gedung yang bisa berputar 360 derajat di setiap lantainya? Bagi Anda yang  menyenangi laut, pernahkah ditawari fasilitas kelas wahid untuk melihat setiap detail laut dengan segala desainnya yang unik? Mungkin yang Anda bayangkan itu semua hanya ada dalam film-film tentang masa depan. Tapi di Dubai, Anda akan mendapatkan semuanya adalah kenyataan.

SEBAGAI satu dari tujuh emirat dan merupakan kota terpadat di Uni Emirates Arab (UEA), Dubai Dubai serta merta menghapuskan pandangan kita tentang tempat yang dulunya hanya sebuah kota gurun padang pasir yang gersang. Dubai mampu menyajikan berbagai kemewahan dan kecanggihan teknologi dalam setiap detail pembangunan kotanya.

Di bawah pemerintahan Shaikh Mohammad, Dubai seolah disulap menjadi surga dunia bagi para turis yang ingin melihat kota dengan berbagai desain unik. Seperti saat menikmati puncak dunia Burj Dubai (Burj Al-Khalifa), yang menjulang setinggi 800 meter dengan 160 lantai dan berada tepat di jantung Kota Dubai. Dengan total luas 330.000 meter persegi, Burj Dubai seolah menjadi simbol beralihnya kemewahan dunia ke Timur Tengah.

Yang paling mengagumkan, ada Dubai Dynamic Tower yang setiap lantainya bisa berputar 360 derajat dengan kecepatan berbeda di setiap tingkatnya. Ini semakin menambah jati diri Dubai sebagai "kota bintang" sesungguhnya. Belum lagi berbagai gedung-gedung tinggi lain yang masing-masing menawarkan kemewahan dan keunikan. Seperti di Adrees Dubai Mall yang di tengah gedungnya terdapat kolam ikan super raksasa dengan ratusan spesies laut, seperti ikan pari raksasa, ikan hiu dan jutaan jenis ikan lainnya. Tidak salah kiranya, Guiness Book of Records mencatatkan prestasi ini sebagai satu-satunya kolam raksasa yang berada di tengah-tengah pusat belanja elit di dunia.

Dubai juga tercatat memiliki hotel dengan paling banyak bintang di dunia, yakni hotel bintang tujuh. Dubai pun berhasil mencuri perhatian dunia, saat menyulap lautan menjadi daratan dan membentuknya menjadi sebuah pulau menyerupai daun palm. Di setiap "lembaran daun" palm island ini, disediakan berbagai fasilitas hotel, mall, gym, taman bermain dan lainnya, dengan tingkat kemewahan tinggi menyaingi Disney Land. Tak cukup hanya di situ, Dubai juga membuat sebuah pulau buatan dengan bentuk seperti permukaan bumi.

"Dubai memang bukan penghasil minyak, tapi hampir seluruh kegiatan di Dubai berkaitan dengan pengolahan minyak. Sebagian besar juga menguasai sektor perdagangan ke seluruh dunia. Dubai juga sangat pintar menggaet investor untuk masuk ke dalam negerinya yang dulu cuma gurun pasir," ujar Dede Achmad Rifai, Konsul bidang Ekonomi dari Konsulat Jenderal RI (KJRI) untuk Dubai.

Dede yang berkesempatan meluangkan waktu untuk JPNN, mengungkapkan bahwa Dubai demikian cerdik dalam mengelola pembangunan daerah mereka. Meski merupakan kawasan gurun pasir yang tandus gersang, namun Shaikh Mohammad yang menjadi pemimpin Dubai ingin membuktikan kedigjayaan Dubai pada dunia. Berbagai kemudahan kepada para investor pun diberikan, untuk menggerakkan pembangunan dan ekonomi masyarakat Dubai.

"Investor boleh menarik keuntungan 100 persen kembali ke negara mereka, kalau memang berkenan investasi di Dubai. Cukai impor yang dikenakan juga kecil sekali, hanya 0-5 persen. Uang yang masuk ke Dubai juga tidak ada batasan, asalkan jelas berasal dari mana. Belum lagi semua kemudahan investasi yang diberikan pada investor. Dengan pelayanan seperti ini, maka banyak sekali investor yang menanamkan investasi mereka di Dubai, sehingga sektor ekonomi pun bergerak positif," jelas Dede.

Bukan hanya mewah dari segi infrastruktur, Dubai juga menjadi kota orang-orang mewah dengan berbagai fasilitas mewah pula. Mungkin hanya di Dubai, Anda bisa dengan leluasa melihat mobil-mobil kelas wahid dunia sekelas Ferrari, Porsche, Nissan, Volvo dan puluhan merk mobil teratas lainnya, berseliweran di jalan raya yang lebar serta mulus beraspal.

"Di sini rata-rata mobil mewah semua. Bahkan ada taksi dari jenis Lamborghini. Memiliki mobil mewah di Dubai sudah bukan barang langka. Harga mobil bisa 50 persen lebih murah dari harga mobil di Indonesia. Ditunjang juga dengan daya beli yang kuat dan harga bensin yang murah. Jadi, sudah biasa mobil mewah di jalan raya Dubai," ungkap Dede.

Dari pantauan JPNN, mobil-mobil mewah ini memang menghiasi hampir seluruh ruas jalan dan parkiran di Kota Dubai. Bahkan mobil-mobil dengan kapasitas 3000-4000 cc atau lebih, juga sudah biasa di kota ini. Malah, di sebuah mall, tampak yang menjadi hadiah undian belanja adalah sebuah mobil merk Mercy yang kalau di Indonesia harganya bisa mencapai Rp 1,4 miliar.

Di Adress Hotel Dubai Mall, JPNN sempat berkenalan dengan seorang penjual parfum bernama Mohammed. Pria lajang berusia 24 tahun asal Siria tersebut mengatakan bahwa di Dubai, memiliki mobil - yang di Indonesia dianggap - mewah, justru biasa-biasa saja. Katanya pula, setiap pemilik mobil juga tidak sungkan untuk membuang mobilnya ke tempat penampungan mobil di gurun pasir, begitu ada merk keluaran terbaru yang dirilis.

"Memiliki mobil di Dubai mudah sekali, karena bensin murah dan pajak sangat rendah sekali. Pada merk-merk tertentu, memang hanya dimiliki kalangan berduit. Tapi hampir semua pekerja di Dubai, memiliki mobil baru. Karena kalau beli lama, harganya tidak jauh berbeda dengan keluaran terbaru," kata Mohammed yang berkenan mengajak JPNN menumpang di mobil BMW keluaran 2009 miliknya.

Bayangkan saja, penjaga counter parfum pun punya BMW! Kalau sudah begini, mungkin, pandangan bahwa padang pasir hanyalah gurun yang panas dan gersang semata, bisa berubah. Mengunjungi Dubai adalah salah satu solusi atau cara untuk melihat surga kecil dunia itu.

Negara Tanpa Pajak, Penuh Hiasan Taman Buatan


INDAH - Taman-taman kota yang indah di gurun pasir ini, harus dialiri dengan selang air tanpa henti. Foto: Afni Zulkifli/JPNN.

Saat Indonesia masih tarik-ulur soal rencana pemberian tax holiday atau pembebasan beberapa pajak, untuk menarik investor ke dalam negeri, Pemerintah Emirat Dubai justru sudah melakukannya sejak lama. Bahkan, negeri makmur di kawasan Uni Emirat Arab (UEA) tersebut, membebaskan beban pajak bagi seluruh aktivitas yang ada di negaranya. Inilah beberapa catatan saat JPNN berkesempatan mengunjungi kota yang kini menjelma menjadi metropolitan dunia itu.

BUKAN hanya kemewahan arsitektur bangunan saja yang ditawarkan Dubai. Namun, bagi siapapun yang mengunjungi kota dengan luas 4.114 km persegi ini, maka bersiap-siaplah dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah. Untuk menggerakkan sektor bisnis dan ekonomi di kota ini, seluruh pekerja, pebisnis dan kalangan dunia usaha, tidak dikenakan pajak satu dirham pun. Bahkan pajak impor barang dari berbagai belahan dunia, tak sampai dari poin 5 persen saat masuk ke negara ini.

Karena pendapatan utama Dubai dari minyak dan sumber alam lainnya hanya berkisar 6 persen saja, maka Dubai pun menjadikan kotanya sebagai tujuan wisata dan bisnis kelas dunia. Harapannya, dari semua ini akan membawa multipliers effect, seperti pendapatan negara yang meningkat dari income pendatang yang membelanjakan uang dan menjalankan bisnis mereka di Dubai.

Dengan semangat itu pula, Dubai pun kini menjadi landmark bisnis perumahan, properti dan hotel yang hanya menawarkan pelayanan kelas wahid. Coba saja menyimak beberapa hotel supermewah, seperti Hotel Atlantis, Burj Al-Arab, Al Burj Khalifa, gedung canggih seperti Dubai Dynamic Tower, serta Pulau Palem yang luar biasa. Dari berbagai pembangunan mewujudkan kota masa depan ini, Dubai pun menjadi kota tujuan para pekerja dari berbagai belahan dunia.

"Dubai ingin investor asing ikut membangun kotanya, dan ingin pertumbuhan ekonomi naik dengan meningkatnya aktifitas ekonomi. Karena itu pula, tidak ada satu pajak pun yang membebani dunia usaha dan pekerja di Dubai. Di mana ada gula, pasti ada semutnya. Begitulah Kota Dubai, kini menjadi buruan para pekerja dan pebisnis dari seantero dunia," ujar Konsul Jenderal (Konjen) RI untuk Dubai, Mansyur Pangeran, kepada JPNN di Dubai, beberapa waktu lalu.

Penduduk Kota Dubai sendiri hanya sekitar 2,2 juta. Mayoritas dari angka ini adalah pendatang asing. Indonesia menjadi salah satu negara yang tenaga kerjanya banyak mencari hidup di Dubai. Di beberapa hotel, tempat hiburan, pelayanan publik, hingga mal-mal elit di kota ini, JPNN banyak menemui pekerja asal Indonesia. Mereka berbaur dengan para pekerja dari India, Pakistan, China, Jepang, Myanmar, Korea, Filipina dan negara-negara lainnya di dunia.

"Banyak sekali pekerja Indonesia di Dubai. Di hotel ini saja hampir 20 persen tenaga kerjanya berasal dari Indonesia, dan hampir 60 persen di antara seluruh pekerja berasal dari kawasan Asia. Bekerja di sini enak. Selain fasilitas apartemen yang mewah, kami juga bekerja tidak kena pajak. Bayarannya tinggi, dengan dirham atau dolar," ujar Faisal (28), pemuda asal Semarang yang sudah empat tahun bekerja di Addres Mall Hotel, hotel bintang lima yang berada tak jauh dari Al Burj Khalifa Dubai, gedung tertinggi di dunia saat ini.

Dubai yang semula padang tandus gurun pasir, di bawah tangan dingin kepemimpinan Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, kini benar-benar menjelma menjadi kota mentropolitan Timur Tengah, bahkan dunia. Untuk mempercantik setiap detail kotanya, pemerintah pun rela merogoh anggaran negara hingga miliaran dirham (setara triliunan rupiah) hanya untuk menyalurkan air ke seluruh kawasan kota. Tujuannya, agar bisa membuat taman buatan dengan keindahan bunga-bunga ala negara timur Eropa dan Asia.

Setiap satu tumbuhan di taman kota Dubai, teramat berharga di kota padang pasir ini. Maka, kalau pengunjung jeli melihat, seluruh taman-taman indah di jalan-jalan utama Kota Dubai, dihiasi pula dengan selang-selang air yang tak putus dengan sumbernya. Selang-selang air ini ditanam di bawah tangkai tumbuhan, dan akan menyemburkan air secara otomatis bila suhu sudah mulai terasa panas.

Tidak hanya itu, jika satu saja tumbuhan ada yang layu atau mati karena tidak bisa beradaptasi dengan cuaca Kota Dubai, maka bagian pertamanan kota akan langsung mengganti bunga-bunga itu dengan bunga-bunga yang baru. Kalau sudah begini, rasanya bersyukur sekali kita tinggal di Indonesia yang hijau.

Lalu bagaimana dengan lalu lintas transportasi di Dubai? Tentunya, fasilitas kelas satu juga diberikan kepada para pengguna jalan. Nyaris tidak ada kemacetan sama sekali di Dubai. Jalanan Kota Dubai yang mulus dan lebar, memberikan kenyamanan bagi pengemudi-pengemudi mobil mewah untuk melintas di atasnya. Bagi kita yang terbiasa dengan macetnya Kota Jakarta, maka akan terasa unik ketika di Dubai tidak terlihat satu pun polisi lalu lintas berjaga-jaga di jalan raya. Bahkan tidak ada satu pos polisi pun terlihat di pojok-pojok kota.

"Di sini semua kendaraan sudah memiliki GPS (sistem navigasi otomatis) yang terhubung dengan database pusat. Setiap lajur jalan juga memiliki video kamera dan pencatat otomatis laju kecepatan kendaraan. Bila ada yang melebihi ketentuan atau terjadi kecelakaan, hanya dalam hitungan menit polisi sudah muncul di TKP. Jadi, polisi lalu lintas hanya berjaga memantau jalan raya dari kantor mereka saja," ujar Supriyadi (41), seorang pekerja asal Surabaya yang memilih menjadi supir di Dubai hampir di separuh usianya.

Kalau berkesempatan mengunjungi Kota Dubai, maka kota Emirat kedua terbesar dalam federasi - setelah Abu Dhabi - yang terletak di Teluk Persia, Barat Daya Sharjah dan Timur Laut Abu Dhabi ini, layak diberi julukan "Negeri Seribu Satu Malam" bagi para turis, pekerja dan pebisnis. Ada yang berminat mencoba peruntungan di sini? (afz/ito/jpnn)

Sumber 1 dan Sumber 2

Menelusuri Jalan Tol Termahal di Dunia yang Ada di Jepang

Bayar Tol, Otomatis Bantu Korban Tsunami


Meski tarifnya mahal, jalan tol di Jepang benar-benar bebas hambatan. Selain itu, jalan tol di sana juga sangat membantu penggunanya dalam mencari tujuan. Berikut lanjutan tulisan Imawan Mashuri, CEO JPMC (Jawa Pos Multimedia Corp), induk seluruh TV grup Jawa Pos, menelusuri jarak 1600 km di sela tugasnya menemui tv-tv partner di Jepang selama 9 hari.

Pemerintah Jepang memberlakukan kenaikan tarif tol. Tidak tanggungtanggung, lima kali lipat dari tarif sebelumnya. Padahal tarif sebelumnya sudah dikenal sebagai tarif termahal dunia. Ada jarak hanya 8 km, tarifnya 1800 yen atau sekitar Rp 180 ribu. Imawan Mashuri, CEO JPMC (Jawa Pos Multimedia Corp), menelusuri jarak 1600 km di sela tugasnya menemui tv-tv partner di Jepang selama 9 hari.

INILAH salah satu cara, bahkan diakui sebagai cara paling utama mencari dana untuk recovery musibah tsunami yang melan takkan provinsi Sendai, Fukushima dan Miyagi 11 maret lalu itu. Dari sektor jalan tol, pemerintah butuh 1 triliun yen atau sekitar Rp 100 triliun untuk membangun kembali dan memperindah bekas wilayah bencana yang menewaskan 30 ribu jiwa tersebut. Dana sebesar itu hanya ingin diraih dalam 1 tahun.

Itu sebabnya, tidak ada jalan lain, tarif tol dinaikkan, rata-rata lima kali lipat dari tarif sebelumnya. Kalkulasinya memang memungkinkan. Di jepang, mobil beredar sekitar 80 juta dari 120 juta penduduknya. Tiap keluarga memiliki dua atau tiga mobil. Dari jumlah itu, 85 persen pengguna tol.

Dengan menaikkan tarif tol, bisa disebut, semua masyarakat pasti terlibat untuk membangun kembali negaranya dan menolong saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Singkatnya, dengan membayar tol yang tarifnya naik lima kali lipat, maka secara otomatis turut serta membantu korban tsunami. Tol di Jepang sudah menembus seluruh wi layah.

Dari Nagasaki di pulau Kyushu, me nembus pulau terbesar Honshu yang ter dapat kota terpadat Tokyo dan provinsi kem barnya jatim yaitu Hiroshima Kemudian masih bersambung ke pulau Shi koku yang terdapat kota kembarnya Surabaya yaitu Kochi, terus tembus ke pulau-pulau kecilnya. Yang tertua adalah Tol Meishing, berusia 50 tahun.

Membentang dari Kobe, Nagoya sampai menembus Tokyo berjarak 600 km. Semua tol telah dihubungkan dengan jembatan-jembatan indah yang jalannya tersusun berlapis; untuk mobil dan motor besar di bagian atas dan di bawahnya untuk kereta api. Menerobos ratusan terowongan yang terpanjang terowongan Shimisu untuk kereta api dan terowongan Seika di bawah laut Hokaido, masing-masing panjangnya 20 km.

Jembatan-jembatan yang menyeberangi lautan, semuanya membentang tinggi sehingga bisa dilalui kapal bertonase besar di bawahnya. Tidak ada kapal besar yang harus cari jalur lain akibat adanya jembatan tol seperti Suramadu misalnya. Sarana ini cukup memadai, andal dan pantas dijadikan alternatif penggalian dana.

Menelusuri jalan tol di musim semi - menjelang musim panas bulan juni juli seperti ini cukup menyenangkan. Pemandangan yang membentang di kiri kanan sungguh indah.

Pohon cemara dan pinus yang medominasi belantara, hijau lebat berjajar mengikuti kontur tebing-tebing, kadang dibelah sungai yang bening. Momiji dan sakura yang biasanya berbunga pasca musim salju pada bulan April, ikut menghijau lebat meski tanpa bunga. Gunung-gunung di sepanjang jalan terasa memeluk dari belakang.

Kalau kita sudah sangat bangga memliki tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung lengkap denga pemandangannya, serta jembatan Suramadu untuk Surabaya-Madura, rasanya perlu menelusuri jalan tol, terowongan dan jembatannya di Jepang. Supaya tergairahkan untuk membuat yang jauh lebih baik lagi.

Sepanjang 1997 km jalan yang saya lewati, 1600 km di antaranya – tol ini saya ukur dari argo meter Toyota Regius (seperti alphard dengan bbm solar) yang saya pakai sejak saya tiba di Osaka sampai kembali ke Osaka - semuanya bertan da jelas, markanya tidak ada yang buram, tidak ada polisi tidur.

Geratan “polisi kecil tidur” yang di sini dipakai un tuk mengejutkan pengemudi supaya tidak mengantuk, di sana hanya segaris di kiri kanan untuk mengingatkan bahwa mobilnya mulai keluar jalur. Jika mulai keluar jalur, menginjak marka, termasuk laju melebihi atau kurang dari batas kecepatan, peringatan dari trans ponder transducer yang terangkai jadi satu dengan monitor mobil, “berteriak” memperingati.

Memang, semua mobil yang masuk jalan tol, terhubung dengan GPS (Global Positioning System). GPS ini memandu sekaligus memperingati. Juga kelak kalau melanggar, otomatis akan muncul data pelanggarannya. GPS menjadi segala-galanya di Jepang.

Terutama untuk lalu lintas. Mencari alamat, tidak perlu sulit-sulit, apalagi harus turun bertanya. Cukup memasukkan alamat, maka jalur yang mengantar ke alamat tersebut akan muncul di monitor dari titik mobil berada. Kalau lupa alamat, cukup menuliskan nomor telepon.

Bisa juga nama kantor, toko, restoran, apa saja, bahkan nama orang, asal lengkap. Sistem monitoring dengan GPS berbasis satelit seperti ini juga diterapkan di banyak bisnis. Bahkan para tahanan di lembaga pemasyarakatan pun menggunakan name plate di ba junya yang dihubungkan ke satelit untuk dimonitor.

Infrastruktur di Jepang dan penataan sis temnya rasanya memang pantas disimak. Semuanya mudah diakses dan dilihat nyata. Jalanan yang terhampar, langsung bisa dikenali. Alamat yang menggunakan angka satu digit, pasti ber ada di jalan negara. Dua digit adalah jalan propinsi dan tiga digit jalan kabupaten.

Pabrik, pertokoan, perkantoran atau rumah-rumah berada pada lokasi dan bloknya masing-masing. Memberi nama untuk apa saja yang berkaitan dengan publik, terutama nama jalan, harus mencerminkan daerahnya atau daerah yang terhubungkan

Rogoh Rp 4 Juta untuk Tempuh Jarak 1.600 Km



TEROWONGAN maupun sungai -sungai dan jembatan, juga gampang dikenali di Jepang. Semua terukur, sampai luasannya. Dan terdata di GPS. Itu sebabnya membuat perluasan tidak mudah karena harus melewati prosedur mengubah data dan peraturan. Pemilik pabrik pemasok komponen alat berat komatsu, Tatebe Kanjiro di Kanazawa Selatan propinsi Ishikawa, memilih akan menghibahkan mesin-mesinnya saja ke melewati prosedur mengubah data dan peraturan.

Pemilik pabrik pemasok komponen alat berat komatsu, Tatebe Kanjiro di Kanazawa Selatan propinsi Ishikawa, memilih akan menghibahkan mesin-mesinnya saja ke Biru tua, adalah milik propinsi; agak mahal jaraknya lebih dekat, dan bertanda hijau; ini yang termahal, jaraknya pendek, milik dan dikelola oleh daerah. Ketika lepas dari tol di Kochi menyeberangi pulau kecil Naruto yang terdapat kota Awaji -seperti Bali kecil yang terkenal dengan udangnya- jaraknya kirakira hanya 8 km, tarif tolnya 1800 yen, setara Rp. 180 ribu.

Ini tarif setelah kenaikan. Tol seperti ini sambung menyambung, berganti-ganti warna yang menandakan ganti wilayah, dan kalau kita tidak keluar, terus, maka lihat saja di palang pintu otomatisnya, tarifnya muncul. Kecepatan melewati tiap pintu tol adalah 20 km/jam, palang pintunya membuka otomatis, dengan kecepatan tidak sampai satu detik. Melewati pintu tol otomatis, tidak perlu membuka kaca.

Dari transponder tranducer yang terangkai dengan monitor di dalam mobil cukup untuk semuanya. Karena alat itu menunjukkan siapa pemiliknya dan berapa uangnya di bank yang disisihkan untuk bayar tol. Uang itu terdebet langsung dan otomatis terkurangkan untuk bayar tol. Enaknya “berlangganan” seperti ini, selain cepat, juga didiskon 30 persen.

Bisa juga yang langsung bayar, pengendara harus keluar ke jalur lain bertanda ETC (electronic true card). Cara ini lebih mahal 30 persen karena di sana memerlukan petugas jaga yang harus melayani. Menyetir mobil pun, di tol jepang tidak merasa lelah.

Selain jalur dan kecepatan selalu terukur dalam panduan GPS, jalannya pun terasa ikut menyetir, misalnya melepas setir untuk jarak yang lumayan panjang, mobil --yang spooring balancingnya bagus-- tidak akan berbelok atau pindah jalur sendiri karena jalannya rata. Untuk tikungan pun, jalannya digarap sedemikian rupa sehingga mobil seperti bisa melaju sendiri mengikuti jalan. Hampir tidak bisa ditemui jalan menanjak atau menurun.

Mereka memilih membuat terowongan, menembus gunung dan bebukitan ketimbang memaksa jalan menanjak atau menurun. Rest areanya juga sangat memadai. Bersih, tentu saja, karena itu trade mark mereka. Klosetnya, tinggal tombol, semua menggunakan semprot otomatis dengan air hangat. Biliknya berjajar puluhan. Tersedia air minum dan teh hangat.

Restoran dan supermarket yang dibolehkan berjualan, terstandar. Beberapa di antaranya menggelar dagangan dari olahan hasil bumi setempat. Karena harus mendatangi sejumlah tempat di sejumlah kota yang berjauhan, saya berkesempatan menikmati tol yang tarifnya luar biasa mahalnya ini. Apalagi jika dibanding tarif tol Indonesia.

Saya menelusuri dari bagian tengah Jepang yaitu Osaka, terus menuju utara, agak ke barat, melewati jalur yang menghadap ke lautan pasifik, kembali ke tengah melalui jalur lain yang menghadap ke lautan baliknya yaitu Laut Jepang, terus ke selatan, menyeberang ke Pulau Shikoku, tembus ke pulau kecil Naruto, kembali ke Osaka. Total jarak yang saya tempuh dalam tujuh hari dari sembilan hari saya bertugas di jepang adalah 1997 km itu. Dari keseluruhan jarak perjalanan itu, membutuhkan 80 persen jalan tol atau sekitar 1600 km.

Kira-kira dari Surabaya menuju Jakarta lewat Selatan dan balik lagi ke Semarang melalui pantura, melewati beberapa tol negara, tol antar propinsi, serta tol daerah dan total biaya tolnya saja, 39.800 yen setara dengan Rp 4 juta. Sungguh tidak murah.

Pada awalnya masyarakat menggerutu atas kenaikan itu. Tapi pemerintah jalan terus. Penjelasan lewat semua media digencarkan. Ada count down di tv. Dan satu hari sebelum kenaikan tarif, yaitu tanggal 19 Juni, tepat hari minggu saat saya tiba di Osaka --dan memulai perjalanan ini-- jalan tol sangat ramai.

Motor-motor besar di atas seribu cc ikut meramaikan bersama mobil-mobil beraneka jenis. Mereka bersama keluarga menikmati hari terakhir sebelum tarif tol naik. Rest area di bawah jembatan tol paling ramai, yaitu Setou Ohashi --yang menghubungkan Okayama di pulau Honsu dengan Kagawa di pulau Shikoku-- dipadati pengunjung. Karena jembatan ini berdiri di atas selat Setou yang jaraknya 13 Km, dengan jembatan gantungnya 9,4 km dan dilatarbelakangi gunung Daisen. Mereka berfoto di sini sambil menyaksikan lalu lalang kapal-kapal berbagai ukuran.

Sesekali kereta api Sinkansen lewat. Besoknya, ketika tarif baru mulai diber lakukan, tol sepi. Tapi tiga hari kemudian tampak normal kembali. Lalu lalang mobil kembali tampak seperti biasa. Pemandangan di rest area terutama yang di bawah jembatan, hidup lagi. Di rest area jembatan Akashi Kaikyou Ohashi yang menghubungkan Awaji Shima dengan Akashi Shi di wilayah Hyogo Ken ramainya seperti di Setou Ohashi sehari sebelum tarif tol naik. Karena dari sini, dari dalam restoran royal yang lezat, tampak lekuk jembatan dan kota-kota nun di sana.

Tsuruno Keisuke, pengusaha yang banyak membantu pemagang asal Jatim bekerja di Jepang mengatakan, kenaikan tol ini memang mencekik. Tapi dia rela demi perbaikan dan kemajuan akan datang. Apalagi untuk kemanusiaan pasca bencana. Pria yang kerap ke Indonesia untuk menjembatani hubungan pengusaha antar negara ini mengaku tiap minggu mesti pergi ke Osa ka dari tempat tinggalnya di Hiroshima.

Dan pasti melewati tol sepanjang 400 km lebih sekali jalan. “Dengan fasilitas jalan dan rest area seperti ini, bolehlah. Yang penting kemudahan usaha tetap lancar,” tuturnya sambil menyeruput miso soup di royal restoran itu. Menurutnya, tol-tol di Indonesia sangat murah dan tidak kalah macetnya dengan jalan biasa. (*)

Sumber 1 dan Sumber 2

Selasa, 28 Juni 2011

Signs of Arrival

One of our readers asked what it was like arriving to a new island after days at sea. He asked what kinds of signs do you get that land is approaching, and what does it feel like. Since we just experienced that after our 7 day passage from New Zealand to Fiji, I thought I would share what its like.

View of Rarotonga from several miles north

When first departing one land for a deep ocean passage, most people experience a variety of feelings. Excitement about going to a new destination. A sense of adventure into the unknown of weather, seas, and unexpected troubles. And, many will experience some seasickness – especially at the start. When still near land you see other boats, the beaches and land of your departing country, fish, dolphin, and birds.

But, soon, you leave most everything behind. At sea, you still see the far-ranging sea birds, flying fish, the occasional school of dolphin may give you a visit, you might see a whale, and if you’re lucky a nice blue-water fish may land on your hook for a fresh dinner. You rarely see another vessel at sea. If you travel near a frequent route between islands, you might see a cargo vessel or two – usually several miles away, possibly only seen as a mark on your radar or a more informative symbol on your AIS. On rare occasions, we spot another sailboat or motor yacht while at sea.

With today’s GPS technology, sailors are well aware of how close they are to their destination. But, there are many physical signs you can look for. Mariners for centuries have used many signs to help identify the approach of land. After several days at sea, everyone on board is excited to see signs of land.

Naturally, you have a greater chance of seeing other vessels as you approach an island. You might spot a deep sea fishing vessel heading out. As you get closer, you may find the blue-water game fishermen. And, by the time the islands are in sight, you will usually find the local fisherman in their smaller boats.

Most often your first sign is an increase in bird sightings. Some are birds that are not normally found far away from land. Fish are normally more plentiful around the land – thanks usually to healthy coral reefs. Where there are birds at sea, there are almost always fish. If you are keeping a sharp eye, you will actually see some fish in the water. But, the birds and fishing vessels are the easiest signs of land.

Another sign is often a change in the weather patterns. It may be clear or partly cloudy around you at sea, but suddenly you see some clouds holding still near the horizon. Islands have moisture that produces clouds, and the clouds will often hang over the island during the afternoon – producing the afternoon showers that help nourish the lush vegetation found on most tropical islands. If it’s sunny, and you are closer to your destination, you can often see the turquoise and blue of the water reflecting off the clouds. Another sign is that the winds, and other weather, often shift due to presence of the land.

Another sign you are close to land is the presence of radios. Every boat is required to listen to hailing and emergency frequencies. While still far away from land, you may suddenly hear your radio blast a few words between boaters chatting about their daily fishing or recreational activities. That always makes everyone smile as they realize they are back in the presence of people. You can often turn on your regular AM/FM stereo and start picking up stations at this point.

A more modern sign people look for, is the presence of cell phone signals. It can be fun to make a call to your family and say you are just a few hours or minutes away from arriving at your destination.

It’s always exciting to be the first to spot the sight of land. Often a silhouette of mountain land appears in the distant haze, or, if the islands are flat, a string of trees along the horizon. Suddenly, you, or someone else, shouts “Land Ho!” and there are smiles all around as everyone rushes to the top of the boat to look.

One final sign you are closer to land, which is particularly surprising to those who haven’t experienced it: smells. When you are in the deep sea, you are far away from the smells we are accustomed to on land. After days away from land, the air is pure and clean. But, as you approach an island, you will usually experience a sudden pungent smell. The vegetation and odors of fish near the shore can be quite strong. And, of course, the presence of man has its own distinctive smells. Thanks to human evolution, our sense of smell quickly adapts to the sudden onslaught. And usually within minutes we no longer notice the worst of the smells. But, it can be shocking to those who first experience it.

The best sign that you have arrived, is when you first greet another person. Usually people will wave and smile at an arriving boat. It’s always such a happy experience to see new people – no matter how much you like those you have been traveling with for days, in a small space, on your boat. And, we’re always happy to finally have steady seas under our boat. That first time you walk on fixed land is always a happy experience (even if it doesn’t seem to “move” right). Now its time for new experiences, new people, new foods, new drinks, and new adventures.

Source

Artikel Popular

Diberdayakan oleh Blogger.